Inilah Penyebab Penjualan Properti di Jogja Turun Tajam 2026
- October 16, 2026
- 3:34 pm
Pasar properti di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tengah menghadapi tantangan berat. Setelah sempat menjadi primadona investasi, sektor perumahan di Kota Gudeg kini justru menunjukkan tren kelesuan. Berdasarkan data terbaru dari Real Estate Indonesia (REI) DIY, angka penjualan properti di Jogja turun hingga mencapai 30 persen pada triwulan pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa minat masyarakat untuk memiliki hunian di Yogyakarta mendadak lesu? Berikut adalah beberapa faktor utama yang menjadi penyebab penjualan properti di Jogja turun.
Faktor paling krusial yang menahan laju pasar properti adalah penurunan daya beli masyarakat, khususnya di kalangan kelas menengah ke bawah. Di tengah situasi ekonomi yang belum stabil, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai sektor membuat konsumen lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial jangka panjang seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Ketua DPD REI DIY menyatakan bahwa saat ini masyarakat cenderung menahan diri untuk melakukan pembelian properti skala besar. Konsumen lebih memilih untuk mengamankan dana tunai (cash) demi memenuhi kebutuhan pokok yang mendesak daripada mencicil rumah.
Selain dari sisi konsumen, tekanan berat juga datang dari sisi pengembang (developer). Kenaikan harga minyak dunia dan biaya energi global memberikan efek domino yang signifikan terhadap sektor konstruksi.
Komponen utama pembangunan seperti semen, besi, hingga material berbahan dasar plastik mengalami lonjakan harga properti produksi. Akibatnya, biaya modal untuk membangun satu unit rumah membengkak. Pengembang pun terpaksa menaikkan harga jual rumah di pasar agar tidak merugi, yang sayangnya justru membuat properti semakin sulit dijangkau oleh konsumen.
Situasi ekonomi global yang dinamis memicu perubahan perilaku konsumen secara drastis. Saat ini, terjadi fenomena downgrade di mana masyarakat secara sadar menata ulang prioritas keuangan mereka.
Membeli properti atau rumah baru kini tidak lagi berada di daftar prioritas teratas. Banyak keluarga yang lebih memilih bertahan di rumah kontrakan atau hunian lama mereka demi menjaga stabilitas arus kas bulanan. Sektor tersier dan sekunder, termasuk investasi properti, secara otomatis dipangkas dari rencana anggaran tahunan masyarakat.
Menariknya, meskipun volume transaksi penjualan mengalami penurunan, harga properti di wilayah DIY justru masih merangkak naik. Data Flash Report pasar properti menunjukkan adanya kenaikan harga tahunan sebesar kurang lebih 5% di wilayah Yogyakarta.
Kenaikan harga ini dipicu oleh semakin terbatasnya lahan strategis dan mahalnya harga tanah di Jogja, terutama di kawasan Sleman dan Bantul. Ketimpangan antara harga rumah yang terus naik dan pendapatan masyarakat yang stagnan inilah yang memicu backlog perumahan semakin melebar.
Penurunan penjualan properti di Jogja merupakan akumulasi dari mahalnya modal produksi pengembang dan melemahnya daya beli konsumen. Bagi Anda yang berencana berinvestasi, situasi ini bisa menjadi momen yang tepat untuk mencermati pergerakan pasar, mencari promo insentif pajak dari pemerintah, atau berburu properti sekunder dengan harga yang lebih miring.
Baca artikel lainnya dari Wastu Property di Google News
Penyangkalan
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.
Perhatian
Artikel ini dibuat dengan bantuan artificial intelligence (AI). Dimohon untuk bijak memanfaatkan informasi. Jika Anda menemukan ada kesalahan informasi atau kesalahan konteks, silakan memberi tahu kami ke redaksi@wastuproperty.co.id


